Cerita Tentang Suku Tengger (Bagian Kedua)

Posted: February 11, 2012 in Obrolan Warung Kopi
Tags: , ,

Untuk melengkapi cerita tentang Suku Tengger, berikut ini adalah sejarah dan adat istiadat suku Tengger, yang aku kumpulkan dari berbagai sumber, terutama dari e-book berjudul “Sejarah, Agama dan Tradisi Suku Tengger” yang ditulis oleh Alpha Savitri.

Suku Tengger yang beragama Hindu hidup di wilayah Gunung Bromo dan Gunung Semeru yang termasuk dalam wilayah 4 Kabupaten, Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur.  Makna lainnya adalah: daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger. Selain itu, di wilayah ini terdapat pula cerita tentang Sejarah Gunung Batok, Lautan Pasir, Kawah Bromo. Kisah lainnya menyangkut Ajisaka aksara Jawa, juga kisah Klambi Antrakusuma.

Sejarah Tengger dari sisi ilmiah erat kaitannya dengan Prasasti Tengger bertahun 851 Saka (929 Masehi), diperkuat Prasasti Penanjakan bertahun 1324 Saka (1402 Masehi). Disebutkan sebuah desa bernama Wandalit yang terletak di pegunungan Tengger dihuni oleh Hulun Hyang (hamba Tuhan = orang-orang yang taat beragama) yang daerah sekitarnya disebut hila-hila (Suci). Karena itulah kawasan Tengger merupakan tanah perdikan istimewa yang dibebaskan dari pembayaran pajak oleh pusat pemerintahan di Majapahit.

Masyarakat Tengger dikenal luas beragama Hindu, berpadu dengan kepercayaan tradisional. Hindu masyarakat Tengger berbeda dengan Hindu di Bali. Perbedaannya antara lain, Hindu Tengger tidak mengenal ngaben sebagai upacara kematian sebagaimana di Bali.

Nancy J. Smith, seorang peneliti menyatakan, mantra-mantra yang dipakai dalam upacara mirip juga dengan mantra Budha sehingga masyarakat luas juga menyatakan bahwa suku Tengger beragama Budha. Namun menurut Nancy, Budha di sini bukan dalam pengertian agama, melainkan istilah yang lazim dipakai masyarakat Jawa untuk menyebut agama sebelum Islam. Memang, pada zaman Majapahit diakui ada dua agama, yakni Hindu dan Budha. Pada abad ke-14 setelah masuknya Islam, kata “Budha” dipakai untuk orang yang belum menganut Islam.

Kaum Tengger dikenal taat beribadah dan menjalankan adat istiadat dengan baik. Tak heran banyak cerita lama, mitos, dan legenda dari daerah ini. Ilmuwan asing pun juga menelusuri sejarah Masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger menghayati sesanti “Titi Luri” ((“Titi Luri”, berarti mengikuti jejak para leluhur atau meneruskan Agama, Kepercayaan dan Adat-istiadat nenek moyang secara turun temurun). Jadi Setiap upacara dilakukan tanpa perubahan, persis seperti yang dilaksanakan oleh para leluhurnya berabad-abad yang lalu.

Upacara Kasada

Upacara ini sangat terkenal di kalangan wisatawan. Bromo seolah identik dengan Kasada. Padahal masih banyak upacara penting lain untuk Suku Tengger. Kesada merupakan hari penting untuk memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Upacara ini dilakukan pada tanggal 14 dan 15 bulan Purnama pada bulan keduabelas. Inilah yang disebut Kasada. Pelaksanaannya di Lautan Pasir, sisi Utara kaki Gunung Batok, dan upacara pengorbanannya di tepi kawah Puncak Bromo.

Upacara ini sering disebut sebagai upacara Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran.

Upacara Karo

Upacara ini bertujuan untuk kembali ke Satyayoga, yakni kesucian. Upacara Karo juga merupakan upacara besar. Paling besar setelah Kasada. Masyarakat Tengger mempercayai, pada Hari Raya Karo inilah Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) menciptakan “Karo”, yakni dua manusia berjenis lelaki dan perempuan sebagai leluhurnya, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger. Upacara Karo dilaksanakan 12 hari. Masyarakat Tengger mengenakan pakaian baru, perabot baru, makanan dan minuman melimpah pada hari raya mereka,  antarkeluarga saling mengunjungi. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah: Mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal usul manusia, untuk kembali pada kesucian dan untuk memusnahkan angkara murka.  Upacara Karo di Bromo selalu dihubungkan dengan Legenda Ajisaka dan Dewata Cengkar sebagai refleksi sifat dan sikap kejujuran sebagaimana manusia di Zaman Satya Yoga.

Upacara Unan-Unan

Upacara ini setiap lima tahun sekali. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar pamujan.  Unan-unan berasal dari istilah tuna alias rugi. Unan-unan berarti melengkapi kerugian dengan upacara. Apa sih yang dianggap rugi? Ini berhubungan dengan perhitungan hari orang-orang Tengger. Ada hari-hari yang harus digabungkan sehingga dianggap rugi.  Unan-unan juga dipakai sebagai sarana mengusir makhluk halus sekaligus untuk menyelamatkan desa dari malapetaka. Unan – Unan menyempurnakan kekurangan atau perbuatan yang telah merugikan kehidupan. Ritual Unan – Unan diawali dengan mengarak sesaji berupa kepala kerbau dari Balai Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo menuju sanggar pemujaan ditempat pendiri desa (punden). Seluruh tokoh agama, tokoh desa dan warga suku Tengger berpakaian adat ikut serta dalam arak – arakan dengan diiringi gamelan Jawa dan tarian Reog. Doa – doa dan mantra dibacakan sepanjang perjalanan menuju sanggar pemujaan. Cara ini dilakukan agar seluruh makhluk halus tidak mengganggu sepanjang ritual berlangsung. Setibanya disanggar pemujaan dukun dan para tokoh adat mengambil tempat untuk melakukan sembahyangan dan memantrai air suci. Air suci itulah yang kemudian ditabur kepada seluruh peserta upacara adat, sebagai simbol pengusiran kesilauan hidup.

Ritual Unan – Unan ternyata juga bertujuan menyempurnakan para arwah yang belum sempurna untuk kembali ke alam asalnya. Ritual Unan – Unan biasanya dilaksanakan serentak di lima desa disekitar lereng Bromo, yaitu Desa Ngadisari, Jetak, Wonokriti, Wonokerso dan Sukapura.

Upacara Kapat

Upacara Kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.

Upacara Kawulu

Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun saka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.

Upacara Kasanga

Upacara ini jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa obor. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke rumah kepala desa, untuk dimantrai oleh pendeta. Selanjutnya pendeta dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.

Upacara Mayu Desa

Upacara Mayu Desa yang dilakukan suku Tengger di Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur, intinya ada dua, yakni Mayu Banyu dan Mayu Desa. Upacara tradisi Mayu Banyu dilakukan untuk melestarikan sumber air sebagai sumber kehidupan warga suku Tengger di Gunung Bromo. Sedangkan upacara tradisi Mayu Desa dilakukan agar warga masyarakat serta desa yang ditinggalinya aman dari sengkala (bencana). Upacara tradisi Mayu Banyu dan Mayu Desa dilakukan setiap lima tahun sekali. Pelaksanaannya selalu dilakukan bertepatan dengan penutupan Hari Raya Karo, yakni Hari Raya bagi suku Tengger di Gunung Bromo.

@moechfahada

Comments
  1. sony gumawang says:

    Satu pihak, kita ingin tradisi masyarakat Tengger tetap lestari. Dilain pihak, arus modernisasi, atau apapun namanya, cepat atau lambat akan mengikisnya. Biarlah waktu yang mengaturnya.

  2. fahada says:

    Dengan kondisi geografis dan aksesnya masih terbatas dan adanya Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, mudah2an bisa mengerem pengaruh modernisasi itu…semoga

  3. sony tus says:

    Adat Istiadat Suku Tengger
    Semoga Rahayu, Lestari & Langgeng Sampai Anak Cucu Serta Generasi Yang Akan Datang . . . .
    Saya Percaya Bahwa Ini Bukan Hanya Mitos, Legenda ataupun Dongeng Belaka Akan Tetapi Ini Juga Merupakan Realita Baik Di Alam Nyata Maupun Alam Ghaibnya . . .

  4. Eko says:

    Suku tengger akan tetap menjadi jati dirinya tanpa terpengaruh modernisasi :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s