Mungkin sebagian dari kita masih ada yang bertanya-tanya, apa yang menjadi penyebab kekalahan Manchester United (MU) dari rival sekotanya Manchester City tadi malam, dengan skor yang konon merupakan kekalahan terbesar MU sejak tahun 1955. Ada beberapa teman yang menulis di akun FBnya, itu karena simbah Fergie lebih banyak memainkan Rooney sebagai bek sepanjang pertandingan itu. Yang lain mengatakan, itu karena kebodohan Jonny Evans yang menarik lengan si bengal Balotelli, yang menyebabkan MU bermain dengan 10 orang sehingga meruntuhkan mental tim. Apapun penyebabnya, mana yang benar, yang jelas kekalahan MU itu menjadikan liga Inggris akan menjadi lebih menarik di pertandingan2 berikutnya. Karena MU tidak lagi menjadi tim superior yang seolah mustahil dikalahkan oleh tim2 lainnya, walaupun di kandang sendiri. Kekalahan MU malam itu, seolah merupakan kemenangan seluruh tim liga Inggris, tidak hanya milik City seorang. Itu bisa kita lihat dari komentar teman2 di jejaring sosial, semua pendukung Chelsea, Liverpol, Arsenal dan lainnya, semua ikut merayakan “kekalahan” MU, bukan “kemenangan” City.
Mungkin sama halnya saat kita menyaksikan jatuhnya presiden Tunisia Ben Ali yang berkuasa hampir 25 tahun, tumbang oleh rakyatnya. Begitu juga berakhirnya kekuasaan Husni Mubarak di Mesir setelah 30 tahun berkuasa, serta yang lebih tragis lagi terbunuhnya Muammar Abu Minyar al-Qaddafi oleh rakyat Libya, setelah 42 tahun berkuasa! Kemenangan rakyat Tunisia, Libya maupun Mesir pasti menjadi kemenangan seluruh rakyat di dunia yang tertindas oleh tirani kekuasaan. Tirani yang selama ini bagaikan tembok besi yang sulit dirobohkan oleh tangan2 rapuh rakyatnya.
Tetapi di balik itu semua, mereka seolah lupa dengan kisah jatuhnya Sadam Husein di Irak, dimana kondisi rakyat di negeri itu tak juga kunjung membaik, setelah sekian lama mencicipi kue global yang dinamakan “demokrasi”. Sama juga dengan kita, rakyat Indonesia, yang juga tak kunjung segera menemukan kesejahteraan yang diidamkan, setelah tumbangnya kekuasaan rezim Soeharto dan menelan mentah2 kapsul “demokrasi”, yang dicampur sedikit rasa “kapitalisme” dan diminum dengan sirup rasa “global”. Yang kita dapatkan bukan obat penyembuh luka akibat tekanan tirani otoriter, tetapi hanya efek samping hiruk pikuk “demokrasi” dan kegaduhan politik-nya. Ditambah penyakit2 baru yang tidak pernah kita idap di jaman “tirani” dulu, atau bahkan penyakit lama yang lebih menyebar merata tidak hanya di gedung2 pemerintah di Jakarta, tetapi bahkan sampai ke daerah pelosok sana, tidak hanya di birokrasi tetapi juga di parlemen dan penegak hukum, tidak hanya di orang besar dan berkuasa tetapi orang kecil pun menjadi beringas dan gampang marah.
Kita semua memang sering lupa bahwa kemenangan, kekuasaan dan kehebatan yang terlalu sering dan lama hinggap di satu pihak akan menjadikan mereka sombong dan jumawa, seolah2 spesies unggul yang berhak menindas dan mengejek2 pihak lain. Kemenangan City terhadap MU harus diikuti dengan kekalahan City oleh klub kecil seperti QPR atau Swansea, agar mereka sadar bahwa mereka sama2 klub setara yang berlaga di level kompetisi yang sama. Kemenangan demokrasi terhadap sistem tirani atau kerajaan, jangan membutakan mata kita seolah demokrasi adalah sistem yang dibawa dari langit oleh malaikat, sehingga segala cara dilakukan dengan “stempel” suara terbanyak atau suara rakyat. Tetapi lupa dengan tujuan demokrasi itu sendiri, yaitu kesejahteraan umat manusia yang setara dan merata. Kompetisi sepakbola tidak bertujuan menghasilkan juara unggul yang tidak terkalahkan, tetapi permainan tim yang menarik dan sportif, saling serang dan saling mengalahkan, sehingga seluruh penontonnya terhibur pulang ke rumah dengan bergandengan tangan.
Simak kuliah Gus Mus di akun twitternya, berikut ini :
Hidup di dunia ini seperti permainan sepakbola.
Main bola bisa menang, bisa kalah.
Hidup seperti sepakbola.
Tidak selalu yg engkau perhitungkan menang, pasti menang.
Demikian sebaliknya.
Hidup seperti sepakbola.
Pemainnya bisa main bersih, bisa main kayu.
Maka diperlukan wasit dan hakim2 garis yg adil.
Hidup seperti sepakbola.
Bila wasit dan hakim2 garis tidak adil, permainan sama sekali tdk menarik, bahkan menjengkelkan.
Hidup seperti sepakbola.
Pemainnya ada yg serius seperti pekerja keras, ada yg sadar hanya bermain.
Hidup seperti sepakbola.
Gembira saat berhasil menggoalkan, sedih saat kebobolan.
Lalu mulai main lagi hingga peluit panjang.
@Moechfahada


