Mereka Yang Mudah Mengobral Nama Tuhan

Beberapa waktu lalu dalam siaran berita live Metro TV, terjadi perdebatan seru via telepon antara seorang pejabat di Mahkamah Konstitusi dengan seorang anggota DPR juga sekaligus bendahara umum partai penguasa.  Intinya keduanya meyakini bahwa keterangan masing-masinglah yang benar serta menuduh yang lain adalah pihak yang berbohong.  Untuk meyakinkan publik, keduanya sama-sama berani bersumpah dengan menyebut nama Tuhan.  Luar biasa beraninya mereka mencatut atau mengobral namaNya untuk sebuah kebohongan, karena kita yakin pasti salah satu di antaranya pasti berbohong, karena tidak mungkin keduanya benar.

Pada acara teve lainnya, pernah juga menampilkan seorang artis kondang yang terkenal dengan film-film panasnya.  Dalam liputan tersebut, ditayangkan gambar artis tersebut sedang berbikini ria di sebuah pantai dengan sang “pacar”.  Saat diwawancarai mengenai liburan mereka berdua, sang artis menjawab,” Alhamdulillah, Tuhan memberi kesempatan kepada kita berdua bisa liburan bareng di pantai yang indah ini.”  Luar biasa, sekali lagi nama Tuhan dengan beraninya dicatut untuk mengesahkan “liburan maksiat” mereka berdua dan itu dipertontonkan tanpa jengah kepada publik yang mungkin mengidolakannya.  Sama juga, saat ada seorang artis yang juga mengatakan bahwa kehendak Tuhanlah yang menyebabkan dirinya hamil tanpa ikatan pernikahan,  audzubillah min dzalik…

Beberapa tayangan tersebut menjadikanku berpikir, fenomena apa yang sedang terjadi di kalangan orang-orang terhormat dan terkenal itu.  Seolah membalikkan seluruh logika dan keyakinan yang ada di kepalaku, bagaimana bisa ada orang yang dengan enteng menyebut nama Tuhan untuk berbohong atau bermaksiat.  Sebenarnya fenomena tersebut juga sudah mewabah di masyarakat, entah karena meniru mereka atau memang “tatanan” masyarakat kita sendiri yang sudah rusak.  Seperti saat menyaksikan tim nasional sepakbola kita datang ke sebuah pondok pesantren untuk beristighozah dipimpin oleh seorang kiai agar diberikan kemenangan di laga final turnamen AFF.  Padahal lawan yang akan dihadapi adalah Malaysia !!! Bukan tim nasional dari sebuah negara “iblis” atau komunis sekalipun…  Sungguh aku tidak mengerti, bagaimana kita berani menjadikan Tuhan sebagai salah seorang “suporter” tim nasional, hanya untuk menang dengan Malaysia.  Kalau memang Tuhan mau jadi suporter timnas kita, jangankan Malaysia, Brasil atau juara dunia Spanyolpun pasti dengan mudah kita lumat…, bahkan tim terbaik para malaikatpun akan bertekuk lutut!

Belum lagi saat akhir tahun pelajaran, saat anak-anak sekolah kita akan menghadapi UN, para ustadz dan ahli doa pun laris dipanggil ke sekolah untuk mendoakan anak-anak itu lulus UN.  Astaghfirullah,  rasanya kok kita terlalu rendah memandang kepemurahanNya, datang memohon padaNya hanya untuk lulus UN,!!!  Betul bahwa Tuhan adalah Sang Maha Mendengar, apapun yang akan kita minta pasti akan dikabulkannya karena Dia Maha Pemurah, tapi apa betul hanya untuk menang main bola atau lulus UN kita harus “melibatkan”Nya?  Sementara di sisi lain, kadang-kadang kita tidak peduli dengan sesuatu yang lebih besar, misalnya kita memohon agar negara kita diberkahi dengan seorang pemimpin yang tuma’minah dan khusuk dengan niatnya memakmurkan rakyatnya.  Atau memohon dan mengadu padaNya agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholihah dan jauh dari godaan narkoba, seks bebas atau kekerasan yang semakin akrab dengan lingkungan kita akhir-akhir ini.

Sungguh tepat kalau Sindhunata dalam tulisannya yang berjudul “Negeri Para Celeng” (Kompas, 31 Mei 2011) menulis: “….agama pun dikomersialkan dan dijadikan alat untuk memainkan kekuasaan, terjadilah ramalan Trajuningtyas (timbangan batin) dalam ajaran Sabdopalon bahwa Allah mung kanggo boreh, kanggo kekudung, kanggo pawitan, kanggo aling-aling sepoto, kanggo bregas-bregasan, kanggo gaib-gaiban, kanggo golek brekatan, kanggo menang-menangan, kanggo suci-sucian, kanggo bagus-bagusan, kanggo becik-becikan.” Maksudnya Tuhan diucapkan di mana-mana, tetapi sebenarnya Tuhan hanya dijadikan bedak polesan, kudung, modal, persembunyian, gagah-gagahan, gaib-gaiban, suci-sucian, saleh-salehan, kuat-kuatan, dan sarana cari rezeki. Orang mengucapkan nama-Nya, tapi tak sedikitpun manut-miturut, nggugu mituhu marang pepacuhing Allah (tunduk tawaduk berpegang pada petunjuk Allah).

Benar juga apa yang pernah dikatakan Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam sebuah orasinya dalam sebuah acara di Jogja.  Beliau mengatakan bahwa umpatan ASU (anjing) ala orang jawa timur atau jogja, bisa digolongkan sebagai kalimat toyyibah, karena sebenarnya itu adalah ungkapan kasih sayang antara sesama.  Sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang terhormat itu, walaupun mulutnya menyebut namaNya, tetapi sebenarnya mereka mengingkari kebesaranNya.  Bayangkan saja, ada seorang hakim yang baru saja tertangkap tangan oleh KPK lengkap dengan barang bukti segepok uang sogokannya, masih dengan lantang berkata,”Saya memutuskan perkara bukan berdasarkan opini masyarakat, tapi berdasarkan keadilan dan akan saya pertanggungjawabkan kepada Tuhan.”

Negara kita memang sedang dirundung krisis, karena justru para orang-orang terhormat di negeri ini, yaitu para anggota DPR, para hakim dan jaksa, serta aparatnya, tidak hanya mengingkari amanah rakyat tetapi malah sibuk mempertontonkan tauladan buruk kepada rakyatnya.  Bukannya memerangi kebatilan dan menegakkan kebaikan, tetapi justru dengan gagah berani merobohkan sendi-sendi kebenaran dan selalu meneriakkan kebohongan dan kemunafikan.  Mereka tidak sadar bahwa tingkahlaku mereka akan menimbulkan “dampak sistemik” yang akan meremukkan nilai moral dan etika bangsa yang dulu menjadi kebanggaan dan ciri bangsa kita.  Karena mereka semua adalah panutan dan idola para anak-anak muda yang masih butuh banyak nilai untuk ditanamkan dalam pertumbuhan jiwa mereka.

Lupakah mereka bahwa suatu saat nanti akan ada hari perhitungan, yang tidak mempan sogokan, upeti atau suap, yang tidak kuasa direkayasa dan dimanipulasi, yang tidak bisa dibredel atau dibungkam.  Pada saat itu mereka tidak akan bisa berpaling lagi dari segala perbuatan yang akan menjadi tanggungjawabnya.

Tuhan tak mungkin terjaring

dinobatkan jadi perkutut

dikatrol di pucuk bambu kering

disuruh mengiya manggut-manggut

Tuhan bukanlah om senang

yang bisa kita cium-cium mesra

sambil kita mencopet dompetnya

(YB Mangunwijaya, 1975)

@Moech F. Fahada

Leave a Comment

Filed under Obrolan Warung Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s